Tampilkan postingan dengan label Hilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hilmu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 April 2011

How PHP Works


When a user navigates in her browser to a page that ends with a .php extension, the request is sent to a web server, which directs the request to the PHP interpreter.


As shown in the diagram above, the PHP interpreter processes the page, communicating with file systems, databases, and email servers as necessary, and then delivers a web page to the web server to return to the browser.

Selasa, 30 November 2010

Syarat Dan rukun Ibadah Haji

Syarat nya adalah :
1. Baligh (Dewasa).

2. Aqil (Berakal).

3. Merdeka (Bukan Budak).

4. Istith'ah (Mampu).

Rukun Nya adalah :
1. Ihram (niat)

2. Wukuf di Arafah

3. Thawaf Ifadhah

4. Sa’i

5. Cukur

6. Tertib

7. Wajib Haji

8. Ihram yakni niat berhaji dari Miqot

9. Mabit di Muzdalifah

10. Mabit di Mina

11. Melontar Jumroh Ula, Wustho dan Aqobah

12. Thawaf Wada’

Rabu, 20 Oktober 2010

Sejarah tumbuhan alfalfa.

Alfalfa (Medicago sativa) adalah spesies tanaman yang dimanfaatkan sebagai makanan ternak (pakan) untuk sapi perah, kuda, sapi potong, domba, dan kambing.Alfalfa juga digunakan dalam sistem rotasi tanaman pangan karena dapat mengikat nitrogen, memperbaiki struktur tanah, dan mengontrol gulma untuk tanaman berikutnya yang akan dibudidayakan.Sejarah tertua mengenai tanaman ini berasal dari sisa-sisa alfalfa berusia 6000 tahun telah ditemukan di Iran.

Deskripsi
Alfalfa adalah tanaman sejenis tanaman herba tahunan yang memiliki beberapa ciri, yaitu berakar tunggang, batang menyelusur tegak dari dasar kayu dan tingginya berkisar 30-120 cm, serta daun tersusun tiga. Tangkai daun berbulu dan berukuran 5-30 mm.Kedalaman akar alfalfa dapat mencapai 2-4 meter. Saat memulai perkembangan batang, tunas aksiler di bagian bawah ketiak daun akan membentuk batang sehingga mahkota pada bagian dasar menjadi pangkal dan tunas aksiler di atas tanah membentuk percabangan. Perbungaan tersusun pada tandan yang padat dengan bunga kecil berwarna kuning.Tumbuhan ini mampu hidup hingga 30 tahun, bergantung dari keadaan lingkungan.Alfalfa juga memiliki bintil (nodul) akar yang mengandung bakteri Rhizobium meliloti sehingga dapat menambat atau mengikat nitrogen dari atmosfer untuk keperluan tumbuhan.

Kultivasi
Musim penanaman alfalfa biasanya berlangsung pada peralihan antara musim semi ke musim gugur, namun pertumbuhan utama terjadi pada akhir musim semi atau awal musim panas. Tumbuhan ini memerlukan waktu penyinaran yang panjang. Perkebangan perbungaan dari setiap kultivar alfalfa dapat berbeda satu sama lain karena lama penyinaran yang diperlukan juga berbeda. Alfalfa tahan terhadap herbisida seperti benazolin, bentazon, dan asam 2,4-Diklorofenoksiasetat. Apabila ingin menanam alfalfa saja (monokultur), terutama pada musim dingin, dapat digunakan propizamida untuk mencegah pertumbuhan gulma yang mengganggu.

Manfaat
Budidaya alfalfa sebagai pakan ternak dilakukan untuk beberapa tujuan, yaitu penggembalaan dan konservasi. Alfalfa dapat ditanaman sendiri ataupun sebagai campuran di antara rumput tropis dan sub-tropis. Bibit alfalfa juga banyak ditanaman sebagai kecambah untuk makanan manusia.Alfalfa banyak diproduksi karena nilai nutrisi dan produksinya yang menguntungkan, selain itu tanaman ini juga disebutkan memiliki rasa yang enak. Dibandingkan dengan pakan ternak dari tanaman lainnya, alfalfa memiliki kandungan protein dan kalsium yang tinggi, tetapi energi termetabolisme dan kadar fosfor di dalamnya relatif rendah. Alfalfa juga termasuk berserat rendah sehingga mudah mencapai rumen (perut besar) dan mudah dicerna oleh hewan ternak.
Dengan pemberian irigasi, tanaman alfalfa dapat memproduksi 25-27 ton per hektar kadar kering pada tahun pertama dan turun hingga 8-15 ton per tahun pada tahun ketiga. Produksi tersebut bergantung pada densitas tanaman, tingkat resistensi hama dan penyakit, aktivitas di musim dingin, dan hujan yang mempengaruhi kelembaban tanah. Dengan hasil produksi tersebut, penanaman alfalfa dapat meningkatkan produksi susu pada sapi. Alfalfa yang tumbuh sepanjang tahun ini juga mencegah terjadinya defisiensi (kekurangan) energi pada ternak dan memperbaiki atau meningkatkan padang rumput.
Sumber di http://id.wikipedia.org/wiki/Alfalfa.

Senin, 06 September 2010

Lalatul Qadar

Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an.

Etimologi

Menurut Quraish Shihab, kata Qadar (قﺩﺭ) sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur'an dapat memiliki tiga arti yakni [1]:

1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad Dukhan ayat 3-5 : Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penah hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami
2. Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat
3. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra'd ayat 26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)

Keistimewaan

Didalam surat Al-Qadar allah berfirman :
Al-Qur'an mulai diturunkan pada malam Lailatul Qadr, yang nilainya lebih dari seribu bulan. Dalam Islam dikatakan bahwa pada malam ini malaikat Jibril dan lainnya turun ke dunia untuk mengatur segala urusan. Pada surah al-Qadr ini diterangkan bahwa permulaan al-Qur'an diturunkan ialah pada malam Lailatul Qadr dan diterangkan juga ketinggian derajat malam ini.

Sumber id.wikipedia.org

Selasa, 17 Agustus 2010

Biografi Syeikh Sayyid Sabiq

Syaikh Sayyid Sabiq dilahirkan tahun 1915 H di Mesir dan meninggal dunia tahun 2000 M. Ia merupakan salah seorang ulama al-Azhar yang menyelesaikan kuliahnya di fakultas syari’ah. Kesibukannya dengan dunia fiqih melebihi apa yang pernah diperbuat para ulama al-Azhar yang lainnya. Ia mulai menekuni dunia tulis-menulis melalui beberapa majalah yang eksis waktu itu, seperti majalah mingguan ‘al-Ikhwan al-Muslimun’. Di majalah ini, ia menulis artikel ringkas mengenai ‘Fiqih Thaharah.’ Dalam penyajiannya beliau berpedoman pada buku-buku fiqih hadits yang menitikberatkan pada masalah hukum seperti kitab Subulussalam karya ash-Shan’ani, Syarah Bulughul Maram karya Ibn Hajar, Nailul Awthar karya asy-Syaukani dan lainnya.

Syaikh Sayyid mengambil metode yang membuang jauh-jauh fanatisme madzhab tetapi tidak menjelek-jelekkannya. Ia berpegang kepada dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan Ijma’, mempermudah gaya bahasa tulisannya untuk pembaca, menghindari istilah-istilah yang runyam, tidak memperlebar dalam mengemukakan ta’lil (alasan-alasan hukum), lebih cenderung untuk memudahkan dan mempraktiskannya demi kepentingan umat agar mereka cinta agama dan menerimanya. Beliau juga antusias untuk menjelaskan hikmah dari pembebanan syari’at (taklif) dengan meneladani al-Qur’an dalam memberikan alasan hukum.

Juz pertama dari kitab beliau yang terkenal “Fiqih Sunnah” diterbitkan pada tahun 40-an di abad 20. Ia merupakan sebuah risalah dalam ukuran kecil dan hanya memuat fiqih thaharah. Pada mukaddimahnya diberi sambutan oleh Syaikh Imam Hasan al-Banna yang memuji manhaj (metode) Sayyid Sabiq dalam penulisan, cara penyajian yang bagus dan upayanya agar orang mencintai bukunya.

Setelah itu, Sayyid Sabiq terus menulis dan dalam waktu tertentu mengeluarkan juz yang sama ukurannya dengan yang pertama sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya hingga akhirnya berhasil diterbitkan 14 juz. Kemudian dijilid menjadi 3 juz besar. Belaiu terus mengarang bukunya itu hingga mencapai selama 20 tahun seperti yang dituturkan salah seorang muridnya, Syaikh Yusuf al-Qardhawi.

Banyak ulama yang memuji buku karangan beliau ini yang dinilai telah memenuhi hajat perpustakaan Islam akan fiqih sunnah yang dikaitkan dengan madzhab fiqih. Karena itu, mayoritas kalangan intelektual yang belum memiliki komitmen pada madzhab tertentu atau fanatik terhadapnya begitu antusias untuk membacanya. Jadilah bukunya tersebut sebagai sumber yang memudahkan mereka untuk merujuknya setiap mengalami kebuntuan dalam beberapa permasalahan fiqih.

Buku itu kini sudah tersebar di seluruh pelosok dunia Islam dan dicetak sebagian orang beberapa kali tanpa seizin pengarangnya. Tetapi, ada kalanya sebagian fanatisan madzhab mengkritik buku Fiqih Sunnah dan menilainya mengajak kepada ‘tidak bermadzhab’ yang pada akhirnya menjadi jembatan menuju ‘ketidak beragamaan.’

Sebagian ulama menilai Sayyid Sabiq bukanlah termasuk penyeru kepada ‘tidak bermadzhab’ sekali pun beliau sendiri tidak berkomitmen pada madzhab tertentu. Alasannya, karena beliau tidak pernah mencela madzhab-madzhab fiqih yang ada dan tidak mengingkari keberadaanya.

Sementara sebagian ulama yang lain, mengkritik buku tersebut dan menilai Syaikh Sayyid Sabiq sebagai orang yang terlalu bebas dan tidak memberikan fiqih perbandingan sebagaimana mestinya di dalam mendiskusikan dalil-dalil naqli dan aqli serta melakukan perbandingan ilmiah di antaranya, lalu memilih mana yang lebih rajih (kuat) berdasarkan ilmu. Apa yang dinilai para penentangnya tersebut tidak pada tempatnya. Sebenarnya buku yang dikarang Sayyid Sabiq itu harus dilihat dari sisi untuk siapa ia menulis buku itu. Beliau tidak menulisnya untuk kalangan para ulama tetapi untuk mayoritas kaum pelajar yang memerlukan buku yang mudah dan praktis, baik dari sisi format atau pun content (isi).

Di antara ulama yang mengkritik buku tersebut adalah seorang ulama hadits yang terkenal, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani yang kemudian menulis buku ‘Tamaamul Minnah Bitta’liq ‘ala Fiqhissunnah”. Kitab ini ibarat takhrij bagi hadits-hadits yang terdapat di dalam buku fiqih sunnah.

Syaikh Sayyid Sabiq merupakan sosok yang selalu mengajak agar umat bersatu dan merapatkan barisan. Beliau mengingatkan agar tidak berpecah belah yang dapat menyebabkan umat menjadi lemah. Beliau juga mengajak agar membentengi para pemudi dan pemuda Islam dari upaya-upaya musuh Allah dengan membiasakan mereka beramal islami, memiliki kepekaan, memahami segala permasalahan kehidupan serta memahami al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal ini agar mereka terhindar dari perangkap musuh-musuh Islam.

Beliau juga pernah mengingatkan bahwa Israel adalah musuh bebuyutan umat ini yang selalu memusuhi kita secara berkesinambungan. Beliau pernah bertemu dengan salah seorang pengajar asal Palestina yang bercerita kepada beliau, “Suatu kali saya pernah melihat seorang Yahudi sangat serius duduk menghafal Kitabullah dan hadits-hadits Rasulullah. Lalu saya tanyakan kepadanya, ‘Kenapa kamu melakukan ini.?’ Ia menjawab, ‘Agar kami dapat membantah kalian dengan argumentasi. Kalian adalah orang-orang yang reaktif dan sangat sensitif, karena itu kami ingin mengendalikan lewat sensitifitas kalian itu. Jika kami berdebat dengan kalian, kami akan menggunakan ayat-ayat dan hadits Nabi kalian. Kami juga akan menyebutkan sebagian permisalan dalam bahasa Arab yang mendukung permasalahan kami sehingga kalian bertekuk lutut terhadap seruan kami dan mempercayai kebenarannya.”

Sumber 1: www.alsofwah.or.id & www.myquran.org
Sumber 2: http://jacksite.wordpress.com/2007/10/03/biografi-syaikh-sayyid-sabiq/

Minggu, 15 Agustus 2010

Shaum Ramadhan 1431 H

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sahabat Segala puji hanya mmilik allah semata. Karena dengan nikmat nyalah kita bisa kembali dihadapkan kepada salah satu bulan yang sangat mulia yaitu dimana bulan yang begitu banyak pahala dan amalan sunnah nabi Muhammad SAW.

Kita sebagai umat muslim diperintahkan dalam surah Al-baqarah(2) ayat 183 yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa".
Ayat diatas menunjukkan bahwa kita diwajibkan untuk bershaum selama satu bulan penuh.

Adapun hikmah Shaum di Bulan Ramadhan Yaitu :
1. Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi dari minyak wangi kasturi.
2. dibukanya pintu-pintu surga.
3. Muradah nya setan di belenggu.
4. Dibuka nya pintu rahmat dari Allah SWT.

Mudah-mudahan mukaddimah ini bisa bermanfaat bagi sahabat semuanya.

Sabtu, 22 Mei 2010

Pemaaf sifat mulia

Salah satu di antara ajaran Islam yang sangat agung adalah ajaran untuk saling memaafkan. Memafkan berarti orang lain yang yang mempunyai kesalahan kemudian kita memberi maaf. Sementara kalau kita yang mepunyai kesalahan maka wajib bagi kita untuk meminta maaf.

Orang yang mulia adalah orang yang suka memafkan. Dalam sebuah hadis yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda:

Musa bin Imran as, berkata: Wahai Tuhanku diantara hamba-hamba-Mu, siapakah orang yang paling mulia dalam pandangan-Mu ? Allah Azza Wajalla menjawab, “ Orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas. “ ( HR. Imam Baihaqi )

Memafkan sesorang yang kita tidak mampu membalasnya adalah baik dan sedikit wajar, karena posisi kita pada saat itu lemah. Sementara memaafkan seseorang yang kita mampu untuk membalasnya adalah lebih baik dan lebih mulia karena pada saat itu posisi kita kuat dan bisa melakukan apa saja. Ketika seseorang berusaha untuk menjadi Pemaaf berarti ia telah berusaha untuk meniru sipat Allah Al-‘Afuwwu yang maha memafkan. Seorang yang memaafkan orang lain adalah orang yang menghapus luka hatinya akibat kesalahan yang di lakukan orang lain terhadapnya. M.Quraish Shihab dalam tafsirnya al-Misbah mengatakan, dalam kontek menghadapi kesalahan orang lain Allah swt menujukan tiga kelas manusia atau jenjang sikapnya sebagaimana yang terdapat dalam surat ali imran ayat 34, pertama : yang mampu menahan amarah atau al-Kazhimiin, yang bermakna “ penuh dan menutupnya dengan rapat “ seperti wadah yang penuh dengan air lalu di tutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan tidak bersahabat masih memenuhi hati yang bersangkutan, pikirannya masih menuntut balas, tetapi ia tdak memperturutkan ajakan hati dan pikiran itu, ia menahan amarah. Ia menahan diri sehingga tidak mencetuskan kata kata buruk atau perbuatan negatif. Di atas tingkat ini adalah yang memaafkan atau al-Aafin, kata ini terambil dari kata al-Afwu yang biasa di terjemahkan dengan kata “ maaf “ kata ini antara lain berarti menghapus. Seseorang yang memaafkan orang lain adalah yang menghapus bekas luka hatinya akibat kesalahan yang di lakukan orang lain terhadpnya. Kalau dalam peringkat pertama di atas, yang bersangkutan baru sampai pada tahap menahan amarah, kendati bekas bekas luka hati itu masih memenuhi hatinya, maka pada tahap ini, Yang bersangkutan telah menghapus bekas bekas luka hati itu. Kini seakan-akan tidak pernah terjadi satu kesalahan atau suatu apapun. Namun, karena pada tahap ini, seakan akan tidak pernah terjadi sesuatu, maka boleh jadi juga tidak terjalin hubungan. Untuk mencapai tingkat ketiga, Allah mengingatkan bahwa yang di sukainya adalah orang orang yang berbuat kebajkan, yakni bukan yang sekedar menahan amarah atau memaafkan, tetapi justru yang berbuat baik kepada yang pernah melakukan kesalahan. Semua orang bisa bersabar apabila ia terpaksa bersabar karena tidak memiliki kemampuan lain untuk membalas. Tetapi yang lebih sempurna adalah apabila ia mampu bersabar padahal ia mempunyai kekuatan untuk marah atau melakukan pembalasan. Telah diterangkan dalam sebuah hadis bahwa di sisi Allah swt, tidak ada perkara yang lebih disukai selain dari melihat manusia yang menahan kemarahannya. Allah swt, kemudian memenuhi batin orang itu dengan keimanan. Di dalam hadis lain dikatakan barangsiapa mempunyai kekuatan untuk membalas, namun dia menahan kemarahannya, maka pada hari kiamat, Allah akan memanggil dia di hadapan semua makhluk dan menyuruhnya, “ Pilihlah bidadari-bidadari yang kamu sukai.”

Rasulullah saw. bersabda, “ orang yang paling kuat bukanlah orang yang dapat menjatuhkan orang kuat lainnya, tetapi orang kuat kuat yang sejati adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah”. Ali bin Imam Husain rah.a. suatu ketika sedang ditolong oleh hamba sahayanya untuk mengambil wudhu. Tiba-tiba lota (cerek) airnya jatuh dari tangan hamba sahaya itu dan mencederai wajah Ali rah.a. Ketika beliau melihat hamba sahaya itu dengan pandangan marah, hamba sahaya itu berkata bahwa Allah Swt, berfirman: “dan orang orang yang menahan amarahnya”.

Ali rah.a. kemudian berkata, “Aku menelan kemarahanku.”

Lalu hamba sahaya itu membaca lagi: “dan memaafkan kesalahan orang lain”.

Beliau menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengampuni engkau.”

Lalu dia membaca: “dan Allah menyukai orang orang yang berbuat kebaikan”.

Maka beliau berkata, “Engkau sekarang telah bebas.”

Suatu ketika hamba lelaki beliau datang membawa mangkuk berisi kuah daging yang masih panas untuk disajikan kepada tamu. Tiba-tiba mangkuk itu jatuh dari tangannya dan menimpa kepala anak beliau yang masih kecil sehingga anak itu meninggal dunia seketika. Beliau kemudian berkata kepada hamba tersebut, “Kamu telah bebas”. Kemudian beliau bersiap-siap untuk memandikan dan mengafani anaknya. Sungguh berbahagia orang yang suka memberi maaf, tidak pernah menyimpan dendam di dalam hatinya. Karena ketika seseorang menyimpan dendam dalam hati, maka secara tidak sadar ia telah menyiksa dirinya. Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang pemaaf, sehingga ikut andil dalam menciptakan suasana dunia yang damai , aman dan sentosa. Amin…

Menakar hukum FB dalam Islam

Beberapa waktu lalu, tersiar kabar bahwa salah satu organisasi Islam di Jawa Timur mewacanakan pengharaman facebook. Tentu saja kabar ini segera menarik respon banyak kalangan, baik dari masyarakat umum maupun Majelis Ulama Indonesia. Dalam wawancara di sebuah stasiun televisi, ketua MUI, H. Amidhan, membantah kalau pengharaman itu berasal dari MUI. Sementara, pendapat masyarakat yang diwawancarai mengenai pengharaman facebook oleh ulama ditanggapi dingin. Menurutnya, ulama yang mengharamkan facebook “kurang kerjaan”.

Ormas Islam dan Fatwa

Dalam Al Qur’an, terdapat perintah agar suatu masyarakat Islam mempunyai sekumpulan orang ahli dalam bidang agama. Sekelompok orang ini difasilitasi oleh masyarakat tersebut untuk menjadi kelompok cendekia. Tugas mereka setelah selesai belajar adalah kembali ke masyarakat untuk mengajarkan agama kepada mereka.

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS At Taubah [9]: 122)

www.sjdowntown.com

www.sjdowntown.com
Ayat ini setidaknya memberi ruang bagi kelompok-kelompok masyarakat untuk menyusun sendiri program keagamaan mereka. Sehingga, hampir setiap organisasi masyarakat yang berbasis agama Islam mempunyai semacam ‘majelis fatwa’. NU dan Muhammadiyah misalnya masing-masing mempunyai majelis fatwa dan majelis tarjih. Demikian juga dengan ormas Islam lainnya. Tujuan dari majelis atau dewan fatwa ini adalah untuk merumuskan hukum atas suatu masalah dengan metode istinbath (perumusan) hukum yang sesuai dengan faham masing-masing.

Selain majelis fatwa, beberapa organisasi dan pesantren juga mempunyai program rutin yang disebut pembahasan masalah (bahtsul masa’il). Kegiatan ini biasanya terbuka untuk umum dengan menghadirkan beberapa ahli sebagai narasumber. Topik yang dibahas bermacam-macam. Baik persoalan yang baru muncul maupun persoalan lama yang dianggap masih menyisakan perdebatan. Hasil dari pembahasan ini ada yang di publikasikan ke luar institusi, ada pula yang cukup hanya menjadi hasil kajian internal.

Hasil dari perumusan hukum yang dihasilkan oleh majelis fatwa dan kesimpulan dari bahtsul masa’il oleh institutsi Islam bukanlah fatwa secara mutlak. Sebab fatwa harus dikeluarkan oleh institusi yang resmi dan mengikat secara menyeluruh kepada umat Islam. Oleh karena itu, apapun yang dihasilkan, baik oleh mejelis fatwa dari satu ormas Islam maupun hasil kajian dari sebuah institusi keislaman seyogyanya dilimpahkan kepada Majelis Ulama Indonesia, sebagai institusi resmi di Indoensia. MUI inilah yang mempunyai kapasitas mengeluarkan fatwa.

Facebook dan Etika Islam

Facebook merupakan sebuah fitur yang memungkinkan seseorang berkomunikasi dengan banyak orang secara sangat mudah. Facebook menjadikan pertemanan semakin mudah dan dekat. Seseorang di Jakarta dapat memperoleh teman atau kenalan di New York dan berkomunikasi dengannya hampir di setiap saat dengan biaya sangat murah. Facebook juga memungkinkan mereka saling bertukar foto dan profil masing-masing sehingga lebih saling mengenal jauh lebih baik dari sekedar berkomunikasi lewat telpon.

Bagaimana dengan etika dalam komunikasi facebook? Sama halnya dengan komunikasi via telepon yang sudah lebih dulu digunakan, komunikasi via facebook juga menuntut etika tertentu. Meski secara teknis tidak ada pembatasan dalam hal berucap atau penayangan profil –bisa saja seseorang berkata-kata tidak senonoh atau menampilkan profil yang kurang bersusila- akan tetapi sanksi moral yang diperoleh justru lebih berat dan lebih cepat. Sebab dalam facebook, profil seseorang yang sudah menjadi “teman” dapat dilihat dan diakses oleh temannya yang lain. Karena itu, seseorang akan berpikir seribu kali jika dia ingin menampilkan sesuatu yang “jorok”. Itu sama saja dengan bertelanjang di muka umum.

Dalam etika Islam, sangat tidak disukai (baca: dilarang) seorang pria dan wanita yang bukan muhrim berdua-duaan. Rasulullah saw. Bersabda: “Janganlah sekali-kali seseorang di antara kalian bersunyi-sunyi dengan seorang perempuan lain kecuali disertai muhrimnya”. HR Bukhari dan Muslim.

Hadis di atas mengisyaratkan suatu prinsip dasar etika pergaulan dalam Islam berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Prinsip tersebut adalah larangan pria dan wanita yang bukan muhrim untuk berduaan di tempat yang sunyi. Kalau kasusnya ditarik kepada kasus facebook, maka pertanyaannya adalah apakah berkomunikasi dalam facebook itu sama dengan atau sama bahayanya dengan berduaan di tempat sunyi. Jika sama, tentu hukumnya akan sama pula. Jika tidak, maka hukumnya tidak bisa dipersamakan. Dalam metodologi hukum Islam, metode ini disebut analogi atau qiyas.

Prinsip etika Islam lainnya dalam bergaul adalah larangan bergunjing, menhasut, berkata porno, serta perintah untuk mengucapkan sapaan yang baik, menjawab salam dan seterusnya. Prinsip-prinsip ini jika dapat diterapkan dalam pergaulan dan komunikasi facebook tentu menjadi pergaulan yang baik.

Kesimpulan
Dari paparan di atas, dapat difahami bahwa facebook sebagai alat dan media komunikasi menempati posisi bebas nilai. Seperti halnya telepon, surat menyurat, dan sebagainya, facebook tidak menempati posisi halal atau haram. Tatacara berkomunikasi, isi komunikasi, serta profil yang ditampilkan, itulah yang bisa dinilai. Apakah sesuai dengan norma dan etika Islam atau tidak. Seorang muslim selayaknya memperhatikan nilai-nilai akhlak Islam dalam setiap aktivitasnya, termasuk dalam menggunakan facebook.[]

Jumat, 04 September 2009

Tanda- Tanda Hari Kiamat

Dalam al-Quran, kisah Ya’juz dan Ma’juz di urikan 2kali.yang pertama dalam surah Al-kahfi sehubungan dengan uraian tentang gambaran dajjal.menjelang berakhirnya surah AL-kahfi, diuraikan tentang perjalanan raja Zulkarnain keberbagai jurusan untuk memperkuat tapal batas kerajaan.
Dalam perjalanan ke wilayah Utara, Zulkarnain berjumpa dengan suatu kaum yang memohon agar ia membantu memerangi Ya’juz dan Ma’juz yang sangat zalim,’’Wahai Zulkarnain! Sesungguhnya Ya’juz dan Ma’juz membuat kerusakan di bumi.Bolehkah kami membayar upeti kepada Tuan dengan syarat Tuan membangun sebuah rintangan antara kami dan mereka?’’(Q.S Al-kahfi:94-96-99-102).
Menurut Ibnu Katsir,Ya’juz dan Ma’juz adalah keturunan Adam.pendapat ini dikuatkan oleh hadis Bukhari dan Muslim.Menurut kitab Ruhul-Ma’ani karya Ibnu Katsir Ya’juz dan Ma’juz adalah dua kaabilah keturunan Yafits bin Nuh,sedangkan dalam Al-Quran,mereka adalah sebangsa manusia yang untuk menghalang-halangi serbuan mereka,terpaksa dibangun sebuah tembok pertahanan yang kokoh.
Dalam Surah Alanbiya:96 disebutkan, ‘’Sampai tatkala ya’juz dan Ma’juz dilepas merekaakan mengalir dari tiap-tiap tempat tinggi ‘’. Yang dimaksud dengan bagian kalimat’’mengalir dari tiap-tiap tempat tinggi’’ ialah,mereka akan menguasai dunia.
Kata Dajjal berarti ‘’pembohong’’ atau ‘’penipu’’.Kata ini hanya menunjukan satu aspek persoalan,yakni kebohongan dan penipuan ,baik mengenai urusan agama maupun duniawi.
Dalam hadis digambarkan bahwasanya Dajjal itu bermata satu karena hanya melihat urusan dunia saja,ingin menguasai dunia, dan memperbudak manusia.
Dalam sebuah hadis sahih dari Nawas bin Sam’an yg diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi,terdapat kalimat, ‘’Seakan-akan ia(Dajjal)mirip dengan Abdul ‘Uzza.Kata ‘’seakan-akan’’ ini menunjukan Nabi Saw menggambarkan keadaan yg beliau lihat dalam kasyaf,yg biasanya harus ditafsirkan.Alquran tdk menyebutkan nama Dajjal secara khusus namun dalam hadis diterangkan, Barangsiapa yg membaca surah Alkahfi akan diselamatkan dari fitnah Dajjal.Semua kitab hadis sependapat bahwa fitnah Dajjal ialah fitnah yg paling besar.Biasanya dalam shalat selalu berdo’a agar diselamatkan dari fitnahnyadengan bacaan berikut, ‘’Ya Allah aku mohon perlindungan-Mu dari finah Masih AD-Dajjal.
Ada2 macam fitnah yg akan terjadi pada akhir zaman.Pertama tentang fitnah Ya’juz dan Ma’juz.Ini diuraikan,baik dalam Al-Quran maupun hadits.tapi Al-Quran tak menerangkan tentang Dajjal melainkan tentang fitnah besar berupa ajaran tentang ketuhanan nabi Isa.(lht surah Maryam ayat 90-91).
Al-Quran menerangkan ajaran semacam itu tdk diajarkan oleh nabi Isa. ‘’Tatkala Allah berfirman ‘Wahai Isa anak Maryam,apakah engkau berkata kpd manusia ambilah aku dan ibuku sebagai Tuhan selain Allah?, ia (Isa) berkata ‘’Maha suci engkau,tak pantas bagiku mengatakan sesuatu yg aku tak berhak mengatakan itu…Aku tak berkata kpd mrk selain apa yg engkau perintahkan kpdku,yakni mengabdilah kpd Allah,Tuhanku dan Tuhanmu.’’(Q.S.Almaidah:116-117).
Dalam hadis diisyaratkan bahwa pd zaman akhir,’’Matahari akan terbit di Barat’’. Ini berarti kebenaran Islam akan tampak di kalangan masyarakat Barat.
Bukan omong kosong bahwa nabi Saw melihat Dajjal bertawaf mengelilingi Ka’bah yg mengisyaratkan bahwa akhirnya bangsa-bangsa Barat akan masuk Islam.


CIRI-CIRI DAN MENJELANG KIAMAT
Menurut Syiekh Nadzim Haqqani uru-urutan sebagaimana disebutkan dalam hadis,Sesungguhya sudah dimulai sejak AS menginvasi Negara Irak.selanjutnya AS akan menyerang Iran untuk menguasai persrnjataan nuklirnya.dari kejadian ini dibayang-bayangi pecahnya perang dunia III.Sehingga akan menjadi ajang perang nuklir yg dahsyat dan mengerikan.Kala itulah muncul Imam Mahdi yang nama aslinya Muhammad bin Abdullah almahdi alfatimi alquraisy,muncul dari arah Timur dan menjadi pemimpin tertinggi kaum Muslimin.Ia menetap di bumi antara 7-9tahun.
Konon,ia muncul saat meninggalnya seorang khalifah,kemudian ia berjalan menuju Mekkah,ia sempat dikejar2 oleh sebuah pasukan.Tapi ketika sampai di suatu tempat yg bernama Albaida mereka ditelan oleh bumi.Setelah itu,Imam Mahdi di bai’at oleh kaum Muslimin diantara sudut Ka’bah dan maqam Ibrahim.
Nabi Saw bersabda,’’jika kamu melihatnya berbai’atlah walaupun harus di salju,karena dia khalifah Allah AL-Mahdi’’.
Adapun profil Dajjal,menurut riwayat bertubuh gemuk,berambut keriting dan lebat,berkulit merah,serta bermata buta sebelah seperti anggur yg tersembul.
Diantara kedua matanya terdapat tulisan ka-fa-ra yg artinya kafir.
Profil nabi Isa a.s,Menurut Nabi Saw,nabi Isa as bertubuh sedang,tidak tinggi dan tidak pendek,berkulit merah dan berbulu,dadanya bidang,rambutnya lurus dan panjang memenuhi kedua pundak sampai diujung telinga,dan disisir rapi.
Beliau akan turun tepat dimenara Timur Damsyiqketika kaum Muslimn hendak meninaikan shalat shubuh berjamaah,beliau diapit oleh 2malaikat,mengenakan dua pakaian yg dicelup minyak ja’faron.jika menundukan kepala turunlah rambutnya seperti tetesan air,dan jika mengangkat kepala tampaklah jidatnya yg landai seperti mutiara.
Setelah shalat shubuh,nabi Isa dan Muslimin memerangio Dajjal,ketika Dajal melihat nabi Isa,tubuhnya meleleh kepanasan,dan tepat diambang pintu Lodd,ia dibunuh oleh nabi Isa a.s.
Nabi Saw bersabda, ‘’Tdk akn terjadi hari kiamat,sehingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka.Ketika mereka bersembunyi dibelakang batu atau kayu,batu dan kayu berkata,Wahai orang Muslim,ini ada orang Yahudi di belakang saya,kemari dan bunuhlah ia; terkecuali pohon Gharqad karena ia termasuk pohon Yahudi.’’(H.R.BUKHARI dan MUSLIM).
Sejak Ya’juz-Ma’juz dan Dajjal musnah,sejak itu pula keadaan bumi aman,damai,dan tentram yang berarti juga masa-masa terakhir kehidupan nabi Isa dan Imam Mahdi.maka bumi pun menebarkan keberkahan-Nya.
Kepergian mereka diikuti oleh pencabutan ilmu Islam secara sempurna oleh Allah SWT.
Dan tak lama kemudian matahari terbit dari ufuk Barat,lalu keluarlah Dabbah,hewan yg dapat berbicara dari arah mekkah.
Menuruit Rasulullah Saw, ‘’akan muncul binatang itu membawa tongkat Musa dan cincin Sulaiman,lalu member cirri siapasajaorang-orang kafir itu.
Tak lama akan muncul awan gelap yang menyebabkan orang Mukmin kedinginan ,dan kulit orang2 kafir melepuh.
Setelah itu bertiuplah angin lembut dari arah Yaman yg mencabut nyawa setiap org Mukmin.
‘’Tiba2 Allah mengirimkan angin yg baik lantas menerpamereka lewat ketiak kemudian mengambil Ruh org Mukmin dan Muslim dan tinggallah manusia jahat yg kacau balau seperti himar,maka pada saat itulah Kiamat terjadi.’’
Tanda-tandanya kiamat juga sempat disebutkan dalam website Lembaga antariksa Amerika Serikat,NASA ,yg mengungkapkan bahwa pada saat ini sudah banyak planet yg perputarannya berbalik arah.
Saat ini matahari masih terbit dari Timur,tapi dalam beberapa tahun lagi akan banyak planet yg berbalik arah,dan suatu saat matahari akan terbit dari arah Barat.
Misalnya sebuah planet dari tata surya lain,yang diberi nama planet X atau NIBIRU,sudah mulai bergerak memasuki orbit bumi karena ditarik oleh gaya gravitasi matahari sehingga arahnya berbalik.

Minggu, 10 Mei 2009

Surat Sayang Dari Allah

Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada KU, walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur kepada KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin ......

Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja ....... AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk .........

Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada KU, walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur kepada KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin ......

Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja ....... AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk .........

Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU berfikir engkau akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan kabar terbaru.

AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.

Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKU, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU berikan, tetapi engkau tidak melakukannya ....... Masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara kepadaKU, meskipun saat engkau pulang kerumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

Mengenal Nama Syekh Siti Jenar 2

Padepokan Giri Amparan Jati

Setelah diasuh oleh Ki Danusela samapai usia 5 tahun, pada sekitar tahun 1431 M, Syekh Siti Jenar kecil (San Ali) diserahkan kepada Syekh Datuk Kahfi, pengasuh Pedepokan Giri Amparan Jati, agar dididik agama Islam yg berpusat diCirebon oleh Kerajaan Sunda di sebut sebagai musu(h) alit [musuh halus] Di Padepokan Giri Amparan Jati ini, San Ali menyelesaikan berbagai pelajaran keagamaan, terutama nahwu, sharaf, balaghah, ilmu tafsir, musthalah hadist, ushul fiqih dan manthiq. Ia menjadi santri generasi kedua. Sedang yg akan menjadi santri generasi ketiga adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah baru datang ke Cirebon, bersamaan dgn pulangnya Syekh Siti Jenar dari perantauannya di Timur Tengah sekitar tahun 1463, dalam status sebagai siswa Padepokan Giri Amparan Jati, dgn usia sekitar 17-an tahun. Pada tahun 1446 M, setelah 15 tahun penuh menimba ilmu di Padepokan Amparan Jati, ia bertekad untuk keluar pondok dan mulai berniat untuk mendalami kerohanian (sufi). Sebagai titik pijaknya, ia bertekad untuk mencari “sangkan-paran” dirinya. Tujuan pertmanya adalah Pajajaran yg dipenuhi oleh para pertapa dan ahli hikmah Hindu-Budha. Di Pajajaran, Syekh Siti Jenar mempelajari kitab Catur Viphala warisan Prabu Kertawijaya Majapahit. Inti dari kitab Catur Viphala ini mencakup empat pokok laku utama.

Pertama, nihsprha, adalah suatu keadaan di mana tidak adal lagi sesuatu yg ingin dicapai manusia. Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan. Ketiga, niskala adalah proses rohani tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dgn Dia Yang Hampa, Dia Yang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Sehingga dalam kondisi (hal) ini, “aku”menyatu dgn “Aku”. Dan keempat, sebagai kesudahan dari niskala adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yg meninggalkan niskala dan melebur ke Parama-Laukika (fana’ fi al-fana’), yakni dimensi tertinggi yg bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi “Aku”.Dari Pajajaran San Ali melanjutkan pengembaraannya menuju Palembang, menemui Aria Damar, seorang adipati, sekaligus pengamal sufi-kebatinan, santri Maulana Ibrahim Samarkandi. Pada masa tuanya, Aria Damar bermukim di tepi sungai Ogan, Kampung Pedamaran. Diperkirakan Syekh Siti Jenar berguru kepada Aria Damar antara tahun 1448-1450 M. bersama Aria Abdillah ini, San Ali mempelajari pengetahuan tentang hakikat ketunggalan alam semesta yg dijabarkan dari konsep “nurun ‘ala nur” (cahaya Maha Cahaya), atau yg kemudian dikenal sebagai kosmologi emanasi. Dari Palembang, San Ali melanjutkan perjalanan ke Malaka dan banyak bergaul dgn para bangsawan suku Tamil maupun Malayu. Dari hubungan baiknya itu, membawa San Ali untuk memasuki dunia bisnis dgn menjadi saudagar emas dan barang kelontong.Pergaulan di dunia bisnis tsb dimanfaatkan oleh San Ali untuk mempelajari berbagai karakter nafsu manusia, sekaligus untuk menguji laku zuhudnya ditengah gelimang harta. Selain menjadi saudagar, Syekh Siti jenar juga menyiarkan agama Islam yg oleh masyarakat setempat diberi gelar Syekh jabaranta. Di Malaka ini pula, ia bertemu dgn Datuk Musa, putra Syekh Datuk Ahmad. Dari uwaknya ini, Syekh Datuk Ahmad, San Ali dianugerahi nama keluarga dan nama ke-ulama-an Syekh Datuk ‘Abdul Jalil.

Dari perenungannya mengenai dunia nafsu manusia, hal ini membawa Syekh Siti Jenar menuai keberhasilan menaklukkan tujuh hijab, yg menjadi penghalang utama pendakian rohani seorang salik (pencari kebenaran). Tujuh hijab itu adalah lembah kasal (kemalasan naluri dan rohani manusia); jurang futur (nafsu menelan makhluk/orang lain); gurun malal (sikap mudah berputus asa dalam menempuh jalan rohani); gurun riya’ (bangga rohani); rimba sum’ah (pamer rohani); samudera ‘ujub(kesombongan intelektual dan kesombongan ragawi); dan benteng hajbun (penghalang akal dan nurani). Pencerahan Rohani di Baghdad

Setelah mengetahui bahwa dirinya merupakan salah satu dari keluarga besar ahlul bait (keturunan Rasulullah), Syekh Siti Jenar semakin memiliki keinginan kuat segera pergi ke Timur Tengah terutama pusat kota suci Makkah. Dalam perjalanan ini, dari pembicaraan mengenai hakikat sufi bersama ulamaMalaka asal Baghdad Ahmad al-Mubasyarah al-Tawalud di sepanjang perjalanan. Syekh Siti Jenar mampu menyimpan satu perbendaharaan baru, bagi perjalanan rohaninya yaitu “ke-Esaan af’al Allah”, yakni kesadaran bahwa setiap gerak dan segala peristiwa yg tergelar di alam semesta ini, baik yg terlihat maupun yg tidak terlihat pada hakikatnya adalah af’al Allah. Ini menambah semangatnya untuk mengetahui dan merasakan langsung bagaimana af’al Allah itu optimal bekerja dalam dirinya. Inilah pangkal pandangan yg dikemudian hari memunculkan tuduhan dari Dewan Wali, bahwa Syekh Siti Jenar menganut paham Jabariyah. Padahal bukan itu pemahaman yg dialami dan dirasakan Syekh Siti Jenar. Bukan pada dimensi perbuatan alam atau manusianya sebagai tolak titik pandang akan tetapi justru perbuatan Allah melalui iradah dan quradah-NYA yg bekerja melalui diri manusia, sebagai khalifah-NYA di alam lahir. Ia juga sampai pada suatu kesadaran bahwa semua yg nampak ada dan memiliki nama, pada hakikatnya hanya memiliki satu sumber nama, yakni Dia Yang Wujud dari segala yg maujud.

Sesampainya di Baghdad,ia menumpang di rumah keluarga besar Ahmad al-Tawalud. Disinilah cakrawala pengetahuan sufinya diasah tajam. Sebab di keluarga al-Tawalud tersedia banyak kitab-kitab ma’rifat dari para sufi kenamaan. Semua kitab itu adalah peninggalan kakek al-Tawalud, Syekh ‘Abdul Mubdi’ al-Baghdadi. Di Irak ini pula, Syekh Siti Jenar bersentuhan dgn paham Syi’ah Ja’fariyyah, yg di kenal sebagai madzhab ahl al-bayt.

Syekh Siti Jenar membaca dan mempelajari dgn Baik tradisi sufi dari al-Thawasinnya al-Hallaj (858-922), al-Bushtamii (w.874), Kitab al-Shidq-nya al-Kharaj (w.899), Kitab al-Ta’aruf al-Kalabadzi (w.995), Risalah-nya al-Qusyairi (w.1074), futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam-nya Ibnu ‘Arabi (1165-1240), Ihya’ Ulum al-Din dan kitab-kitab tasawuf al-Ghazali (w.1111), dan al-Jili (w.1428). secara kebetulan periode al-jili meninggal, Syekh Siti Jenar sudah berusia dua tahun. Sehingga saat itu pemikiran-permikiran al-Jili, merupakan hal yg masih sangat baru bagi komunitas Islam Indonesia. Dan sebenarnya Syekh Siti Jenar-lah yg pertama kali mengusung gagasan al-Hallaj dan terutama al-Jili ke Jawa. Sementara itu para wali anggota Dewan Wali menyebarluaskan ajaran Islam syar’i madzhabi yg ketat. Sebagian memang mengajarkan tasawuf, namun tasawuf tarekati, yg kebanyakkan beralur pada paham Imam Ghazali. Sayangnya, Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskan ajaran-ajarannya karena kesibukannya menyebarkan gagasan melalui lisan ke berbagai pelosok Tanah Jawa. Dalam catatan sastra suluk Jawa hanya ada 3 kitab karya Syekh Siti Jenar; Talmisan, Musakhaf (al-Mukasysyaf) dan Balal Mubarak. Masyarakat yg dibangunnya nanti dikenal sebagai komunitas Lemah Abang.

Dari sekian banyak kitab sufi yg dibaca dan dipahaminya, yg paling berkesan pada Syekh Siti Jenar adalah kitab Haqiqat al-Haqa’iq, al-Manazil al-Alahiyah dan al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhiri wa al-Awamil (Manusia Sempurna dalam Pengetahuan tenatang sesuatu yg pertama dan terakhir). Ketiga kitab tersebut, semuanya adalah puncak dari ulama sufi Syekh ‘Abdul Karim al-Jili.

Terutama kitab al-Insan al-Kamil, Syekh Siti Jenar kelak sekembalinya ke Jawa menyebarkan ajaran dan pandangan mengenai ilmu sangkan-paran sebagai titik pangkal paham kemanuggalannya. Konsep-konsep pamor, jumbuh dan manunggal dalam teologi-sufi Syekh Siti Jenar dipengaruhi oleh paham-paham puncak mistik al-Hallaj dan al-Jili, disamping itu karena proses pencarian spiritualnya yg memiliki ujung pemahaman yg mirip dgn secara praktis/’amali-al-Hallaj; dan secara filosofis mirip dgn al-Jili dan Ibnu ‘Arabi.

Syekh Siti Jenar menilai bahwa ungkapan-ungkapan yg digunakan al-Jili sangat sederhana, lugas, gampang dipahami namun tetap mendalam. Yg terpenting, memiliki banyak kemiripan dgn pengalaman rohani yg sudah dilewatkannya, serta yg akan ditempuhnya. Pada akhirnya nanti, sekembalinya ke Tanah Jawa, pengaruh ketiga kitab itu akan nampak nyata, dalam berbagai ungkapan mistik, ajaran serta khotbah-khotbahnya, yg banyak memunculkan guncangan-guncangan keagamaan dan politik di Jawa.

Syekh Siti Jenar banyak meluangkan waktu mengikuti dan mendengarkan konser-konser musik sufi yg digelar diberbagai sama’ khana. Sama’ khana adalah rumah-rumah tempat para sufi mendengarkan musik spiritual dan membiarkan dirinya hanyut dalam ekstase (wajd). Sama’ khana mulai bertumbuhan di Baghdad sejak abad ke-9 (Schimmel; 1986, hlm. 185). Pada masa itu grup musik sufi yg terkenal adalah al-Qawwal dgn penyanyi sufinya ‘Abdul Warid al-Wajd. Berbagai pengalaman spiritual dilaluinya di Baghdad sampai pada tingkatan fawa’id (memancarnya potensi pemahaman roh karena hijab ygmenyelubunginya telah tersingkap. Dgn ini seseorang akan menjadi berbeda dgn umumnya manusia); dan lawami’ (mengejawantahnya cahaya rohani akibat tersingkapnya fawa’id), tajaliyat melalui Roh al-haqq dan zawaid (terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam kalbu yg membuat seluruh rohaninya tercerahkan). Ia mengalami berbagai kasyf dan berbagai penyingkapan hijab dari nafsu-nafsunya. Disinilah Syekh Siti Jenar mendapatkan kenyataan memadukan pengalaman sufi dari kitab-kitab al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi dan al-Jili. Bahkan setiap kali ia melantunkan dzikir dikedalaman lubuk hatinya dgn sendirinya ia merasakan denting dzikir danmenangkap suara dzikir yg berbunyi aneh, Subhani, alhamdu li, la ilaha illaana wa ana al-akbar, fa’budni (mahasuci aku, segala puji untukku, tiadatuhan selain aku, maha besar aku, sembahlah aku). Walaupun telinganyamendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, al-hamduliAllahi, la ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fa’buduhu, namun suara yg didengar lubuk hatinya adalah dzikir nafsi, sebagai cerminan hasil man‘arafa bafsahu faqad ‘arafa Rabbahu tersebut. Sampai di sini, Syekh SitiJenar semakin memahami makna hadist Rasulullah “al-Insan sirri wa anasirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).

Sebenarnya inti ajaran Syekh Siti Jenar sama dgn ajaran sufi ‘Abdul Qadir al-Jilani (w.1165), Ibnu ‘Arabi (560/1165-638-1240),Ma’ruf al-Karkhi, dan al-Jili. Hanya saja ketiga tokoh tsb mengalami nasib yg baik dalam artian, ajarannya tidak dipolitisasi, sehingga dalam kehidupannya di dunia tidak pernah mengalami intimidasi dan kekerasan sebagai korban politik dan menemui akhir hayat secara biasa.

Menurut R.Ng. Ranggawarsita (1802-1873) Pokok keilmuan Syekh Siti Jenar disebut sebagai “Ngelmu Ma’rifat Kasampurnaning Ngaurip” (ilmu ma’rifat kesempurnaan hidup [the science of ma’rifat to attain perfection of life]). Ranggawarsita menyebutkan basis ilmiah ajaran tersebut adalah renungan filsafat yg bentuk aplikasinya adalah metafisika dan etika.

Ajaran metafisika meliputi ontologi, kosmogoni dan antropologi. Ontologi berbicara tentang Ada dan tidak ada. Dalam hal ini, Syekh Siti Jenar merumuskan tentang the Reality of the Absolute being (hakikat Dzat Yang Maha Suci) yg memiliki sifat, nama dan perbuatan “Kami”. Dari “Kami” inilah kemudian muncul “ada” dan “keadaan” lain, yg sifat hakikinya adalah “Tunggal”. Manusia yg dalam hidupnya di alam kematian dunia ini disebut sebagai khalifatullah (wakil Allah=pecahan ketunggalan Allah), dan kemudian ia harus berwadah dalam bentuk jisim (jasmani) ia harus menyandang gelar “kawula”, sebab jasad harus melakukan aktivitas untuk memelihara jasadnya dari kerusakan dan untuk menunda kematian yg disebut :"ngibadah” kepada yg menyediakan raga (Gusti). Maka kawula hanya memiliki satu tempat kembali, yakni Allah, sebagai asalnya. Maka manusia tidak boleh terjebak dalam wadah yg hanya berfungsi sementara sebagai “wadah” Roh Ilahi. Justru Roh Ilahi inilah yg harus dijaga guna menuju ketunggalan kembali (Manunggaling Kawula Gusti).

Minggu, 26 April 2009

Upaya Membangun Amal Shaleh

Manusia diciptakan oleh allah untuk menjadai hamba allah('abid,)pengabdi selain sebagai khalifah allah di muka bumi ini .Tentu saja ini adalah kedudukan yang sngat tinggi di bandingkan dengan mahluk lainnyaselipun di banding dengan malaikat .akan tetapi kedudukan yang tinggi itu tidak akan dapat di pahami oleh manusia dengan iman dan ilmu saja,bukan dengan yang lainnya . Oleh karena itu orang yang beriman dan berilmu akan dapat memahami kedudukan nya di hadapan allah ,untuk itu dia harus membuktikan dengan amal shaleh baik sebagai hamba maupun sebagai khlifah.Amal artinya kerja, jadi segala sesuatu yangdilakukan manusia menyangkut seluruh aktifitas manusia termasuk menggosok gigi,menyapu halaman membersihkan selokan air,mencopet merampok, mencuri, dan lain-lain adalah amal,sehinnga tentu saja amal itu ada yang baik dan ada yang buruk.

Jadi, dengan demikian sebenarnya dalam hiodup nmanusia selalu berhadapan dengan dua hal, yaitu baik =dan buruk, mulai bangun tidur sampai tidur kembali. dan dlam waktu tertentu manusia di tuntut untuk mengambil keputusan melkukan kebikan apabila ingin selamat di dunia dan si akhirat.

Suatu perbuatan dapat di katakan baik apabila amal shaleh mempunyai tiga(3) syarat yaitu:
1. Niat tulus karena mencari ridho allah allah.
2. Harus dlaa kerangka keimanan.
3. Harus sesuai dengan aturan syari'at.

Kamis, 18 Desember 2008

Tahu Kah Anta wa Antum?

Sikap Memaafkan dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.
Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

Template by : kendhin x-template.blogspot.com